Al-Qur'an

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS Asy-Syams: 9-10)

Kamis, Juli 09, 2015

Memperindah Kebatilan Adalah Salah Satu Tipu Daya Iblis/Syetan



Syetan membuat mereka menganggap baik menyembah perhala, memutuskan tali persaudaraan, mengubur anak perempuan hidup-hidup dan menikahi ibu sendiri. Selanjutnya syetan menjanjikan mereka kemenangan mendapatkan surga melalui kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Syetan menampakkan syirik pada sebagai bentuk pengagungan. Sedangkan kufur terhadap sifat-sifat Allah, ketinggian-Nya, Kalam-Nya dan kitab-Nya, dia tampakkan sebagai bentuk pensucian pada-Nya. Lalu meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, ditampakkan sebagai wujut kecintaan dan kasih sayang terhadap sesama manusia, manifestasi dari akhlak yang baik dengan mereka, serta mengamalkan firman Allah:” Jagalah dirimu...(Al-Maidah 105). Kemudian berpaling dari apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditampakkan sebagai bentuk taklid dan merasa cukup terhadap ucapan orang yang lebih mengerti diantara mereka. Bersikap munafik  dan plin-plan dalam agama Allah, ditampakkan sebagai suatu kecerdikan dan akal yang dinamis ditengah-yengah manusia.

Kamis, Juli 02, 2015

Pendapat Imam Madzhab Tentang Berdoa Dalam Sujud



Menurut para ulama  madzhab Hanafi, orang yang mengerjakan shalat sama sekali tidak boleh membaca selain tasbih didalam rukuk dan sujudnya. Perintah untuk berdoa dimaknai tasbih yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saja.
Sedangkan menurut para ulama madzhab Maliki, disunnahkan berdoa ketika sujud. Yakni doa yang berkenaan dengan urusan agama, dunia dan akhirat; bagi diri sendiri atau orang lain; khusus ataupun umum. Menurut para ulama madzhab Hanbali, boleh membaca doa-doa yang ma’tsur ataupun berbagai zikir. Menurut madzhab Syafi’I, sangatlah baik berdoa ketika sujud. Dalil mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan yang lain yang berbunyi:

Kamis, Juni 25, 2015

Waspadalah Terhadap Jerat Dan Tipudaya Setan

Ditengah-tengah pertempuran yang akan terus berlangsung antara manusia dan syetan sampai Hari Kiamat kelak, kita harus selalu waspada terhadap jerat serta berbagai macam tipu daya dan cara-cara syetan dalam menyesatkan kita. Kalau tidak, kita akan masuk dalam perangkapnya. Setiap kali mendatangi manusia, syetan pasti berkata kepadanya:”Tinggalkan saja segala perkara kebaikan ini, dan lakukan kejahatan”, dengan tujuan supaya Anda celaka di dunia dan akhirat. Jika syetan sudah membujuk seperti itu, namun nyatanya tidak ada seorangpun yang mau turut, dia pasti akan menempuh berbagai cara lain untuk menipu hamba-hamba Allah. Demikian dikemukakan oleh Syaikh Isham bin Muhammad Asy-Syarif dalam buku “Berbagai Penyimpangan Dalam Rumah Kita”. Judul aslinya “Mukhalafat fi Buyutina”. Menurut Syaikh Isham, berbagai cara lain itu diantaranya ialah “Meperindah Kebathilan”.
 Dijelaskan, mengutip ucapan iblis, Allah Ta’ala berfirman:” Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka.( Al-Hijr 39-40)

Kamis, Juni 18, 2015

Neraca Kemurahan Dan Karunia Ilahi



Sesungguhnya neraca keadilan menyebutkan bahwa orang yang beramal baik akan dibalas dengan kebaikan. Barangsiapa beramal buruk maka balasannya adalah keburukan. Akan tetapi neraca kemurahan dan karunia Ilahi memiliki wacana lain. Allah Ta’ala berfirman:
...Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan  baginya kebaikan pada kebaikannya itu...(Asy-Syura 42: 23)

Kamis, Juni 04, 2015

Allah Menyuruh Agar Takut Terhadap Hari Kiamat



Hari Kiamat itu pasti datangnya. Kondisi pada waktu itu, sangat layak untuk ditakuti. Allah Ta’ala menyuruh kita untuk merasa takut terhadap Hari Kiamat. Salah satu kondisi pada Hari Kiamat ialah, jika ayah ingin menebus anaknya dengan dirinya maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila anak hendak menebus ayahnya dengan dirinya, maka tidak akan diterima. Penjelasan mengenai hal ini, dikemukakan dalam Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir.
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu dan takutlah akan suatu hari pada saat seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya, janji Allah adalah benar, maka jangan sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dan jangan pula penipu memperdayakan kamu dalam menaati Allah. (QS. Luqman 33)
Loading...