Al Qur'an

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.( QS. Ali Imran 3: 85)


Kamis, Maret 26, 2015

Nyanyian Dan Musik Salah Satu Sebab Tertutupnya Pintu Hidayah



Memenuhi keinginan-keinginan palsu yang menjadikan kemurkaan Tuhan hanyalah akan menjadikan pemuda harus membayar yang mahal; ia harus membayarnya dengan merelakan dirinya diazab kelak pada hari kiamat. Bersenang-senang dengan lagu dan musik tidak lebih dan tidak kurang adalah perdayaan syetan, dan ia akan cepat binasa. Demikian ditegaskan oleh Shalih bin Muqbil Al-Ushaimi dalam bukunya “29 Sebab Tertutupnya Pintu Hidayah (judul aslinya:”Mu’awiqatul Hidayah”)
Dijelaskannya, banyak orang yang kecanduan nyanyian dan musik. Padahal tak perlu lagi didiskusikan bahwa nyanyian dan musik hukumnya adalah haram.

Kamis, Maret 19, 2015

Hubungan Antara Cinta Dan Peribadahan


Kebanyakan orang yang mengaku cinta kepada Allah adalah orang yang paling jauh dari mengikuti sunnah, beramar ma’ruf nahi munkar dan berjihat di jalan Allah. Lebih tragis lagi ia mengaku sebagai orang yang paling sempurna jalan cintanya dibanding orang lain. Menurut sangkaannya, jalan cinta kepada Allah itu tidak disertai kecemburuan dan kemarahan karena Allah. Hal ini menyelisihi petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian dikemukakan oleh DR. Majdi Al-Hilali dalam bukunya “Mencintai & Dicintai Allah”.
Diingatkan, beribadah dengan cinta saja itu berbahaya dan bisa menggelincirkan.
Ibnu Taimiyah berkata:”Cinta yang murni itu akan menyenangkan jiwa, hingga dikhawatirkan hawa nafsu akan menguasainya jika ia tidak dibatasi dengan rasa takut kepada Allah. Hingga berkatalah orang yahudi dan nasrani:
...kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya...(Al-Maidah 5: 18)

Kamis, Maret 12, 2015

Tatacara Pembagian Zakat



Para ulama ber-ikhtilaf mengenai delapan golongan ini, apakah zakat itu harus dibagikan kepada semua golongan atau kepada sebagiannya saja? Menurut pendapat yang paling sahih, dan Allah Maha Mengetahui, tidaklah wajib memberikan zakat kepada semua golongan, namun cukup menyerahkan kepada salah satu dari delapan golongan itu dan seluruh zakat dapat saja diberikan kepadanya, walaupun masih terdapat golongan yang lain. Inilah pendapat Imam Malik dan sekelompok ulama salaf serta khalaf. Diantara mereka ialah Umar, Hudzaifah, Ibnu Abbas, Abu al-Aliyah, Said bin Jabir, dan Maimun bin Mahran.
Demikian dikemukakan oleh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i dalam Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir sehubungan dengan ayat 60 Surah At-Taubah.
Sesungguhnya, zakat itu adalah bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, para pengurusnya, para mualaf yang dibujuk hatinya, bagi hamba sahaya, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan ibnu sabil sebagai suatu kewajiban dari Allah. Dan Allah maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. At-Taubah: 60)

Kamis, Maret 05, 2015

Contoh Ridha Dengan Takdir Allah



Terkadang, kisah yang berisi keteladanan dapat menjadi pemicu bagi diri kita. Demikian pula kisah yang berhubungan dengan keridhaan seseorang dalam menerima takdir Allah. Di dalam buku “Mencintai & Dicintai Allah” karangan Dr. Majdi Al-Hilali di ceritakan kisah tersebut. Mudah-mudahan kisah dalam buku terjemahan dari judul asli “Kaifa Nuhibbulloh wa Nasytaqu ilaihi” ini semakin mendorong kita untuk ridha dengan takdir Allah.
Semua takdir yang ditentukan Allah bagi hamba-hamba-Nya pada dasarnya membawa kebaikan yang sejati bagi mereka sekalipun yang nampak bukan seperti itu.
Contohnya adalah rezeki, Allah melapangkan rezeki bagi sebagian hamba dan menyempitkan sebagian yang lain karena Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Bukankah Allah telah berfirman:
Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. ( Asy-Syura 42: 27)

Kamis, Februari 19, 2015

Sempurnanya Ibadah (Rasa Takut, Harapan, Ridha, Bahagia)



Sebagai seorang Mukmin, kita sepatutnya terus berusaha untuk mencapai kesempurnaan peribadahan. Oleh sebab itu, kita perlu memahami bagaimana sesungguhnya  kesempurnaan peribadahan itu.
Dr. Majdi Al-Hilali dalam sebuah buku “Mencintai & Dicintai Allah, Bagaimana Mewujudkannya? Memberikan penjelasan tentang kesempurnaan peribadahan. Dijelaskan, bahwa, peribadahan sejati kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala pada hakekatnya adalah mengarahkan sebagian besar perasaan hamba hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga hal itu akan membalikkan mu‘amalahnya sesuai dengan keadaan dan peristiwa yang ia alami. Ini merupakan bentuk realisasi dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :
Sungguh menaksjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik baginya. Dan, hal itu tidak terjadi kecuali pada diri seorang mukmin. Jika ia ditimpa kelapangan ia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Sedang jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka sabar itu juga baik baginya. (HR. Muslim)
Loading...