Al-Qur'an

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS Asy-Syams: 9-10)

Hikmah






20. Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kepada kita, melainkan di dalamnya ada manfaat untuk kita di dunia dan akhirat. Tidak pula Allah melarang sesuatu, melainkan di dalamnya ada mudarat bagi kita, di dunia dan akhirat. (Abdul Karim Muhammad Nashr, Shalat Penuh Makna)

19. Imam Abu Hanifah:” Jika aku mengatakan perkataan yang menyelisihi Al-Qur’an dan hadis maka tinggalkan pendapatku”. (Sifat Shalat Nabi SAW, Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

18. Imam Malik Bin Anas r.a:” Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, yang bisa salah dan bisa benar; maka lihatlah pendapatku, semua pendapatku yang sesuai Al-Quran dan as-Sunnah ambillah dan tinggalkanlah segala pendapatku yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan as-Sunnah. (Sifat Shalat Nabi SAW, Muhammad Nashiruddin Al-Albani)
17. Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menjaga dan mencegah anda dari sesuatu yang dilarang, serta melindungi anda dari semua yang dapat membahayakan kebaikan urusan agama maupun akhirat anda. Pusat kisaran  kebahagiaan dunia dan akhirat ialah berpegang pada tali Allah. (Madarij As-Salikin, Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziah. Dikutip dari buku “Berbagai Penyimpangan Dalam Rumah Kita, Syaikh Isham bin Muhammad Asy-Syarif)
16. Allah mewajibkan  hamba-hamba-Nya agar menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menjadikan ketaatan tersebut sebagai ketaatan kepada-Nya. Allah menjelaskan bahwa sunnah Nabi adalah wahyu dari sisi-Nya yang harus dipegang teguh dan diamalkan dengan pebuh semangat. (Berbagai Penyimpangan Dalam Rumah Kita, Syaikh Isham bin Muhammad Asy-Syarif)
15. Imam Asy-Syafi’I Rahimahullah mengatakan:” Adalah kewajiban kaum ayah dan kaum ibu untuk mendidik putra-putri mereka, mengajari merka bersuci dan shalat, dan memukul mereka karena meninggalkannya ketika mereka sudah baligh, yaitu yang lelaki sudah pernah mengalami mimpi basah dan yang wanita sudah mengalami haid, atau sudah menginjak usia genab lima belas tahun maka wajib melakukannya. ( Syaikh Isham bin Muhammad Asy-Syarif, Berbagai Penyimpangan Dalam Rumah Kita-Mukhalafat fi Buyutina)
 14. Mendirikan shalat berarti memelihara pelaksanaannya dalam waktu-waktu yang telah ditetapkan, membaguskan wudhu, menyempurnakan berdiri, ruku, I’tidal, sujud, bacaan al-Quran, tasyahud dan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid I, Muhammad Nasib Ar-Rifa’i)
13. Asal makna shalat adalah “berdoa’. Kemudian istilah itu digunakan dalam syara’ sebagai ibadah yang memiliki gerakan ruku, sujud dan perbuatan tertentu lainnya, dilakukan dalam waktu tertentu, dengan syarat-syarat yang sudah dimaklumi , dan sifat serta jenis shalat  yang sudah masyhur dan diwajibkan  oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya sebanyak lima kali  dalam sehari semalam. Shalat merupakan rukun Islam yang kedua. (Ringkasan tafsir Ibnu Katsir, Jilid I, Muhammad Nasib Ar-Rifa’i)
12. Tidak ada makanan dan gizi bagi hati dan jiwa selain mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal keagungan, ketinggian dan kebesaran-Nya. Sehingga tingkatan dalam ma’rifah adalah; takut kepada Allah, mengagungkan-Nya, meninggikan-Nya, mendekat pada-Nya, cinta kepada-Nya, rindu untuk berjumpa dengan-Nya, dan ridha dengan ketentuan-Nya”. (Kumpulan risalah Ibnu Rajab II/467).  (DR. Majdi Al-Hilali, Mencintai & Dicintai Allah)
11. Islam telah mengakui kedudukan keluarga yang sangat agung. Hal itu tampak jelas dari perhatian Al-Qur’an terhadap urusan-urusan keluarga, baik dalam masalah perjodohan, persusuan, perceraian dan warisan. Generasi umat manusia yang datang silih berganti sanggup menanamkan nilai-nilai makna Islami yang sangat mendalam pada keluarga ditengah-tengah masyarakat kita. Musuh-musuh kita – yang selalu berusaha menghancurkan umat Islam – merasakan betapa kokoh benteng  yang bernama keluarga ini. (Syaikh Isham bin Muhammad Asy-Syarif, Berbagai Penyimpangan Dalam Rumah Kita)
10. Kalau seseorang sudah memandang baik kebathilan, dengan sendirinya dia akan terdorong mengerahkan segala kemampuan serta jerih payahnya untuk mewujudkan sesuatu yang dia pandang benar, kendatipun hal itu justru akan mebuatnya celaka. (Syaikh Isham bin Muhammad Asy-Syarif, Berbagai Penyimpangan Dalam Rumah Kita)
9. Ibnu Mas’ud berkata:” Al-Qur’an diturunkan kepada kalian untuk kalian amalkan. Karena itu, pelajarilah Al-Qur’an untuk kalian amalkan. Sungguh, ada diantara kalian yang membaca Al-Qur’an dari surat Al-Fatihah sampai surat yang terakhir, tidak ada satu hurufpun yang terlewatkan, akan tetapi pengamalannya terlewatkan”. (Shalat Penuh Makna, Abdul Karim Muhammad Nashr)
8. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali mengutip ucapan Al-Fudhail bin Iyadh: “Sesungguhnya amal yang tulus tapi tidak benar, itu tidak diterima; dan amal yang benar tapi tidak tulus , juga tidak diterima. Jadi, supaya diterima, amal harus tulus dan benar. Amal yang tulus ialah yang dilakukan untuk Allah Ta’ala; dan amal yang benar ialah yang dilakukan berdasarkan As-Sunnah. (Syaikh Isham bin Muhammad Asy-Syarif, Berbagai Penyimpangan Dalam Rumah Kita)
7. Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya :” Wahai anakku, tuntutlah rezki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya.(Uswah, Bulletin Dakwah & Informasi Pusdai Jabar)
6. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan:” Pusat kisaran kebahagiaan dunia dan akhirat itu dengan berpegang teguh pada Allah dan juga pada tali-Nya. Tidak ada keselamatan sama sekali, kecuali bagi orang yang berpegang teguh pada keduanya. (Berbagai Penyimpangan Dalam Rumah Kita, Syaikh Isham bin Muhammad Asy-Syarif)
5.  Takdir yang menyakitkan dan musibah yang melanda, tak lain hanyalah ‘alat’ yang digunakan Allah untuk mengingatkan para hamba-Nya akan hakikat keberadaan mereka di dunia, bahwa dunia bukanlah tempat tinggal mereka. Dunia adalah negeri ujian. Mereka harus segera kembali kepada-Nya sebelum hilangnya kesempatan. (DR. Majdi Al-Hilali, Mencintai & Dicintai Allah)
4. Sesungguhnya dalam melaksanakan ketaatan itu terdapat kebahagiaan yang hakiki, kesenangan dan perasaan yang enak, serta kenikmatan yang diperoleh sang pecinta dalam bermunajat, berdzikir dan berkhalwat dengan Robbnya. Inilah yang disebut sebagai “surga dunia”. Inilah yang sulit untuk kita masuki kecuali dari pintu cinta. (DR. Majdi Al-Hilali, Mencintai & Dicintai Allah)
3. Suatu hari putra Imam Ahmad Rahimahullah Abdullah bertanya kepada ayahandanya:” Kapan kita bersenang-senang wahai ayah? Imam Ahmad menjawab:” Ketika kita meletakkan kedua telapak kaki kita di Surga”. ( 29 Sebab Tertutupnya Pintu Hidayah, Shalih bin Muqbil Al-Ushaimi)
2. Didalam keluarga, kedua orang tua memiliki peranan yang sangat besar dan vital. Jika tidak becus mengurus keluarga, berarti mereka telah berbuat aniaya terhadap anak-anak, masyarakat dan diri mereka sendiri. Dan perhitungan mereka dihadapan Allah kelak pasti akan sangat besar kalau sampai mereka tidak segera bertaubat dan menanggulangi bahaya yang sangat mengerikan tersebut. (Syaikh Isham bin Muhammad Asy-Syarif, Berbagai Penyimpangan Dalam Rumah Kita).
1. Ketahuilah, bahwa ibadah seorang hamba harus dibangun oleh tiga pilar, dan ketiganya harus terkumpul seluruhnya dalam setiap muslim. Ibadah seseorang tidaklah akan benar dan sempurna kecuali dengan adanya pilar-pilar tersebut. Bahkan sebagian ulama mengatakannya sebagai ‘rukun ibadah’. Tiga hal itu adalah cinta, takut dan harap. (DR. Majdi Al-Hilali)







Tidak ada komentar: