Al-Qur'an

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Israa' 36)

Kamis, Juli 05, 2012

Menjauhkan Diri Dari Hasad (Dengki)


Pernahkah anda mengalami ketika orang lain sukses, kita merasa tersiksa? Boleh jadi hal itu merupakan pertanda, bahwa penyakit dengki ada di dalam diri kita. Berusahalah terus agar  tidak memperturutkannya. Sebab, kemungkinan hal itu terjadi selalu ada. Jika “rasa” tersiksa itu datang, berusahalah mengatasinya. Jalan keluar terbaik adalah mengikuti tuntunan yang telah diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jauhkan dirimu dari dengki. Karena dengki itu memakan segala kebajikan sebagaimana api memakan kayu. (HR. Abu Daud)
Janganlah kamu berdengki-dengkian, janganlah kamu putus-memutuskan hubungan, janganlah kamu berjauhan hati, janganlah kamu saling membenci, tapi hendaklah kamu semua, wahai hamba Allah hidup bersaudara. (HR. Bukhari-Muslim-Ahmad)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita bersikap hasad (dengki). Berarti kita tidak patut memelihara sifat tersebut.
Menurut KH. Abdullah Gymnastiar (Mengatasi Penyakit Hati), satu ciri orang dengki adalah “ Senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. Jadi, sangatlah gampang jika kita ingin mendeteksi apakah penyakit ada pada diri kita. Apakah kita merasa senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang? Berapa banyak kebahagiaan kita melihat orang lain susah dan berapa banyak penderitaan kita melihat orang lain senang?
Rasa dengki yang sifatnya hanya berupa lintasan hati saja, itu adalah sesuatu yang normal, karena kita sebagai manusia mengandung unsur hawa nafsu. Tapi, jika kedengkian itu diperturutkan, maka akan menimbulkan masalah baru yang akan menyusahkan diri kita sendiri.
Ciri lainnya adalah adanya keengganan dari seorang pendengki untuk melihat atau bertemu dengan orang yang didengkinya. Seorang pendengki tidak akan mau mendengar suaranya. Kalau kita merasa dengki terhadap seseorang, maka kita tidak ingin berdekatan dengannya.
Raut muka pendengki lebih banyak masam daripada manisnya. Tutur kata pendengki lebih banyak menghina, mencela, dan menjatuhkan. Kalau dia mendengar seseorang mendapat pujian dari orang lain, maka dia akan menimpali bahwa apa yang dipujikan padanya belumlah seberapa. Dia akan berusaha menutup-nutupi kebaikan orang yang didengkinya dihadapan semua orang karena dia tidak tahan mendengar orang lain mendapat pujian  sedangkan dia sendiri tidak. Dia selalu melakukan upaya-upaya gigih agar orang lain nampak jelek dimata orang banyak.
(Pekanbaru, Juni 2012)

Tidak ada komentar: