Al-Qur'an

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Israa' 36)

Kamis, Maret 29, 2012

Cara Berzikir Yang Berkualitas

Berzikir adalah aktivitas sederhana, namun efeknya bisa sangat luar biasa. Bagaimana supaya zikir kita memberikan efek? Tentu saja dengan menggali dan mengkaji cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berzikir.
Hadis { Dari Aisyah Radhiallahu Anha ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berzikir pada setiap waktunya. (Muttafaqun alaih)} mengisyaratkan bahwa ibadah yang satu ini dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sendirian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memimpin Sahabatnya dalam berzikir seperti halnya ketika shalat. Sebab andaikata yang demikian itu dilakukan, maka pasti akan banyak yang meriwayatkannya dengan lafadz yang sharih (jelas) dan jalur periwayatan yang shahih.

Sabtu, Maret 24, 2012

Melakukan Ibadah Menurut Kemampuan


Dari ‘Aisyah r.a. berkata: Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah kami bertepatan dengan adanya seorang wanita, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapakah wanita itu?” Jawab ‘Aisyah, “Ini Falunah yang terkenal ibadah shalatnya banyak sekali.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ah (kata yang menyatakan kurang senang), hendaklah ia mengerjakan menurut kadar kemampuannya dengan tidak memaksakan diri maka Allah tidak akan jemu (bosan) menerima amalmu sehingga kamu sendiri yang jemu beramal dan perilaku agama yang disukai Allah ialah yang dikerjakan terus-menerus.”( HR Bukhari-Muslim)
Dari hadis ini, dapat kita ambil pengajaran, bahwa melakukan ibadah dengan jumlah yang banyak, tidaklah dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apalagi sampai memaksa diri dan temporer. Ibadah yang dilakukan dengan terus menerus, lebih disukai Allah SWT. Bukan soal banyaknya, tetapi kesinambungannya yang perlu benar-benar dilaksanakan.

Kamis, Maret 22, 2012

Sedekah Jariyah, Ilmu Yang Bermanfaat, Anak Yang Saleh


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dam Ahmad: “ Jika seorang anak Adam meninggal dunia, maka putuslah segala amal ibadahnya, kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak-anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.”
Sedekah Jariyah.
Para ulama menjelaskan bahwa sedekah jariyah adalah wakaf yang diniatkan untuk kebaikan, dan kebaikan itu terus dirasakan hingga sepeninggalnya. Misalnya, wakaf tanah, masjid, madrasah, rumah hunian, kebun, mushaf, kitab yang berguna, sumber-sumber air minum berupa sumur, bak dan kran-kran air.

Minggu, Maret 18, 2012

Memberi Tangguh Atau Menyedekahkan Hutang


Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al Baqarah 2: 280)
Prihatin sekali menyaksikan di media massa adanya aksi kekerasan ketika menagih hutang. Bahkan ada yang sampai menghilangkan nyawa. Sebagai seorang muslim yang cerdas, tentu  akan berusaha menyelesaikan masalah dengan sebaik-baiknya. Baik menurut Al Qur’an dan sunnah.

Kamis, Maret 15, 2012

Keadaan Orang Kafir Setelah Mati


Dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu yang panjang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang orang kafir setelah mati:
Gelarkanlah untuknya alas tidur dari api neraka, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke neraka. Maka panas dan uap panasnya mengenainya. Lalu disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berimpitan. Kemudian datanglah kepadanya seseorang yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya, dan busuk baunya. Dia berkata: ‘Bergembiralah engkau dengan perkara yang akan menyiksamu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan dengannya (di dunia).’ Maka dia bertanya: ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang jelek.’ Maka dia berkata: ‘Wahai Rabbku, jangan engkau datangkan hari kiamat’.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Senin, Maret 12, 2012

4 Unsur Prinsip Tawakal (Mujahadah, Do'a, Syukur, Sabar)

Islam mengajarkan kita untuk menyertakan Tawakkal Principles (prinsip-prinsip tawakal) dalam proses pencapaian cita-cita. Suatu aktivitas dan kreativitas bisa dikategorikan menggunakan Tawakkal Principles apabila mengandung empat unsur:
1.      Mujahadah.
Mujahadah diambil dari kata Jahada, artinya sungguh-sungguh. Allah SWT memerintahkan agar kita sungguh-sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan, jangan asal-asalan. Kalau kita jadi mahasiswa, belajarlah sungguh-sungguh dan selesaikan tepat waktu. Kalau kita jadi pedagang, berikan pelayanan dan produk terbaik agar pelanggan ketagihan menggunakan produk yang kita jual. Kalau kita jadi karyawan, selesaikan pekerjaan sesuai target agar pihak manajemen menilai positif  cara kerja kita.

Kamis, Maret 08, 2012

Sikap Manusia Terhadap Harta

...“Tidaklah ada suatu musibah yang menimpa seorang muslim, hingga duri yang menusuknya, kecuali itu akan menjadi penghapus dosanya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Ketika masih kecil dulu, ada sebuah cerita sederhana yang masih dapat saya ingat. Cerita tentang seorang anak yang menangis karena kehilangan sekeping uangnya. Si anak menangis dipinggir jalan. Melihat ini, seseorang datang menghampiri dan menanyakan kenapa manangis. Si anak memberikan jawaban, bahwa dia menangis karena uangnya hilang.

Selasa, Maret 06, 2012

Seorang Pemuda Kristen Masuk Islam

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.( QS. Ali Imran 3: 85)
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan  (yang berhak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. ( QS. Thaahaa 20: 14)

Jumat, Maret 02, 2012

Pengertian Kafir


Secara bahasa, kafir berasal dari kata kufur, artinya menutupi kebenaran, melanggar kebenaran yang telah diketahui dan tidak berterima kasih. Kata jamak dari kafir adalah kaafiruun atau kuffar.
Kata kafir atau derivasinya (kata jadiannya) disebutkan 525 kali dalam Al Qur’an. Semuanya mengacu pada perbuatan mengingkari Allah SWT. Seperti mengingkari nikmat Allah SWT ( Qs. An-Nahl 16:44, Ar-Rum 30: 34), membangkang hukum-hukum Allah SWT ( QS. Al Maidah 5: 44), meninggalkan amal saleh yang diperintahkan Allah SWT ( QS. Ar-Rum 30: 44).
Kalau kita cermati, arti kafir yang paling dominan disebutkan dalam Al Qur’an adalah pengingkaran terhadap Allah dan Rasul-Nya, khususnya Muhammad Shallallhu ‘alaihi wa sallam berikut risalah yang dibawanya. Istilah kafir dalam pengertian yang terakhir ini, pertama kali digunakan  dalam al Qur’an untuk menyebut para kafir Mekah ( QS. Al Mudatstsir 74: 10).
Jadi, orang kafir yaitu mereka yang menolak, menentang, mendustakan, mengingkari dan bahkan anti kebenaran. Seseorang disebut kafir apabila melihat sinar kebenaran, ia akan memejamkan mata. Apabila mendengar ajakan kebenaran, ia menutupi telinganya. Ia tidak mau mempertimbangkan dalil apapun yang disampaikan padanya dan tidak bersedia tunduk pada sebuah argumen meski telah mengusik nuraninya.
(Sumber: Tafsir Al Qur’an Kontemporer, Juz Amma Jilid I, Aam Amiruddin)